Senin, 04 Juli 2011

Marhaban Ya Almaut

Marhaban Ya Almaut

Tetapi sebelumnya, kepadamu, seseorang mengungkapkan sebuah kalimat yang dipinjamnya dari Rasul Ibrahim:
“Adakah kau pernah melihat seorang kekasih membinasakan kekasihnya, Almaut?”

Tetapi kemudian, kalimatmu pun terlahir dengan sejuta warna bahasa, dari sejuta lidah dari sejuta mulutmu yang selalu basah:
“Hei fulan, adakah kau pernah melihat seorang kekasih menolak undangan kekasihnya?”

Dan setelah itu, maka bernyanyilah kami, berdendanglah kami sepanjang hari. Setulus hati,dan sepenuh kefanaan ini:


Marhaban ya Almaut
Yang tegap, dan menetap di lengan sayap kekasih Ibrahim
Dengan tubuh, di mana sepenuh za’faran tumbuh
Mahluk, yang tak satu pun dari setiap hal yang berdenyut
Akan luput, dari merasakan kepedihan dari tanganmu

Marhaban ya Almaut
Kudeta bagi segala raja, dinasti, dan duka: Tamasya
Jalan menukik, dari nestapa yang ditempuh para salik
Cahaya dari pintu, bagi seluruh teka-teki dan segala rahasia
Waktu

Marhaban ya Almaut
Yang Baka bagi segala cinta
Tafsir Api dalam kabut
Kekasih, sekaligus musuh dalam selimut


2011

Rabu, 18 Mei 2011

Puisi Sarabunis Mubarok



Sarabunis Mubarok

DI LELANCIP MALAM
             -buat Jun An Nizami

Malam larut bersama kopi hitam, lalu kita
saling pandang dengan mata menyala. Sambil
menjulurkan lidah, kau menjilat rasa pahit dari
hidup yang dihimpit kebenaran normatif. Tapi
aku tak bisa memberimu gula, meski kau ingin
memaniskan percakapan kita.  Sebab di rumahku,
semut-semut tengah bertelur di tumpukan buku.
Sebab setelah mereka menetas pun kau takkan
bisa mengenali anak-anak semut itu satu persatu.

Lalu kau mencerap asap dari seduhan kopi, dan
melanjutkan percakapan tentang keheningan.
Tanpa menghiraukan suara jangkrik, kau terus
berbisik tentang malam dan kegelapan. Melulu
sampai ke batas sunyi, dan menemukan teka-teki
yang harus kaupecahkan sendiri. Sedang aku
bukanlah api bagi sebatang lilin. Tak ada yang
bisa melelehkan kebuntuanmu selain puisi,
selain tanpa henti mengenali diri sendiri.

Malam mendekati lelancipnya, saat terdengar
lolongan anjing di kejauhan. Aku menafsirnya
sebagai nyanyian malam, dan memintamu untuk
tak meremehkan pertanda alam. Lolongan berulang,
aku meruncingkan telinga sementara kau mengemas
diam. Kau mengira anjing di kampungku tak lebih
liar dari anjing di pikiranmu. Lalu kau menyalak
ketika kutemukan banyak puisi yang dibanggakan
para penyair, tiba-tiba menjadi tulang.

2011.