Tampilkan postingan dengan label Catatan lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan lain. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Agustus 2013

Catatan Perjalanan: Sepanjang Jalur Gunung Guntur


Catatan Perjalanan: Sepanjang Jalur Gunung Guntur



Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

(Pramoedya Ananta Toer)

(1)

Sebenarnya saya kurang percaya diri untuk membuka catatan kecil ini dengan ungkapan gagah seperti yang saya kutip di atas . Ini hanya catatan perjalanan biasa, sehabis mendaki. Sama seperti catatan-catatan perjalanan lainnya yang saya tulis di blog ini, semisal catatan perjalanan dari Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate, catatan perjalanan seusai mendaki Papandayan dan Cikuray –yang belum selesai, dan catatan perjalanan Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi, dan catatan-catatan yang lainnya lagi. Ini hanya catatan perjalanan biasa, meski ini, saya pikir juga tidak tepat untuk saya jadikan alasan kurang percaya diri. Jadi, bisa jadi sebenarnya saya tidak tahu kenapa saya kurang percaya diri untuk membuka catatan kecil ini dengan ungkapan gagah seperti yang saya kutip di atas. Jadi, ketidak-tahuan ini bisa jadi juga: Ini karena saya tidak mengenal diri saya sendiri.

Ini jadi mengantarkan saya pada pikiran: Kenapa hal-hal yang dialami, dipikirkan atau dirasakan seseorang harus memiliki alasan? Untuk apa? Bagaimana kalau tidak memiliki alasan?
Saya mendaki, entah untuk apa. Kenapa harus ada makna? Kenapa harus ada arti? Dunia toh tidak berhenti, meski barangkali ia tahu kita tidak mengerti. Dan hari-hari toh terus berlanjut, meski kamu tidak mengerti untuk apa kamu hidup.

(2)

Sebutlah Tapak Lamping, sebuah nama yang saya ajukan ketika kawan-kawan saya mencari nama untuk semacam komunitas pecinta alam di kampung kami. Dan jadilah! Dan tak usahlah bertanya apa makna atau artinya, karena saya biasanya akan balik bertanya: Kenapa harus ada makna? Ada arti? Bagaimana kalau tak bermakna? Tak berarti?

(3)

Baiklah, kita mulai!

21/08/13

Setelah rencana ke Ciremai tahun ini kembali gagal, akhirnya sidang “isbat” yang begitu lambat karena dipenuhi kata “terserah”dari anggota dewan ini memutuskan untuk menuju Gunung Guntur, Garut. Kata “terserah” ini selalu saya tandai sebagai kemungkinan bahwa kami adalah orang-orang yang gamang untuk mengambil keputusan, tapi bisa jadi juga sebagai sikap toleran, atau bisa jadi juga karena kemungkinan lain yang belum saya temukan. Dijadikan bahan candaan, misalkan, seperti yang akhirnya kami lakukan sepanjang perjalanan.

+ Mau naik jam berapa?

- Terserah!

+ Bikin tenda di sebelah mana?

- Terserah!

+ Ngopi atau mati?

- Terserah!

(4)

Swiss van Java, konon itulah julukan yang disematkan komedian Charlie Chaplin untuk Garut. Ini untuk kali ketiga kami mendaki Gunung di Garut, setelah sebelumnya Cikuray dan Papandayan. Kini Guntur. Setelah searching di internet terlebih dulu, 2.249 mdpl, benar-benar bisa saya anggap enteng.

Dalam sidang “isbat”, sebetulnya Ikbal mengajukan kembali Cikuray, alasannya karena Ochay (bukan nama sebenarnya) belum pernah ke sana. Tapi saya menolak. Saya memilih Guntur, karena kami semua belum pernah.

(5)

16. 30 wib kurang lebih, kami tiba di desa terakhir, lalu mampir di warung untuk membeli kebutuhan logistik di sekitar desa terakhir, karena kami lupa untuk mampir di pasar terakhir.

Hampir maghrib ketika kami berempat tiba di kampung Citiis, kampung terakhir, di kediaman ketua RW untuk terlebih dulu ngobrol, untuk sekaligus numpang menitipkan motor. Di kediaman ketua RW ini, sekilas melihat stiker, bertulis PUPALA, Pura-pura Pecinta Alam. Kami tertawa.

Selesai shalat di mesjid terdekat, kembali ngobrol dengan seseorang. Ia memaparkan tentang jalur pendakian; tentang jiwa-jiwa yang tersesat dan dicari-cari tim SAR beberapa pekan ke belakang (dengan kesan seolah mereka disesatkan setan); kemudian mitos. Ya, selalu ada mitos...

(6)

Berhubung kami belum pernah sama sekali, ada seorang Pak Tua (penyebutan Pak Tua di sini karena dua hal. Pertama karena saya lupa namanya. Kedua agar terkesan seperti cerita silat), Pak Tua itu menyarankan agar kami berangkat nanti pagi, menumpang truk pengangkut pasir sampai area penambangan atau akses kendaraan terakhir. Tetapi, akhirnya setelah mengadakan kembali sidang “isbat” sambil bercanda dengan kata “terserah” akhirnya kami memutuskan untuk berangkat. Minimal sampai Curug Citiis, untuk kemudian esok pagi dilanjutkan lagi menuju Puncak Guntur. Akhirnya, Pak Tua itupun berpesan, kurang lebih begini:

“ Hati-hati, ya Jang, jangan bicara kasar. Terus kalau mau bertanya, jangan bertanya ‘jalan’, tapi harus ‘jalur’! ”

Saya jadi membayangkan, betapa sebuah kata-kata bisa jadi begitu berharga, bisa memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap manusia.

(7)

Sudah gelap, ketika beberapa menit kami berjalan. Syukur masih ada truk yang hendak menuju pertambangan. Betul-betul gila dan mengesankan, sepanjang perjalanan, di atas truk, tubuh kami terbanting-banting. Tapi kami mulai bisa melihat lampu-lampu yang terhampar, seperti ribuan kunang-kunang yang terjebak dan terdampar.

(8)

Saya selalu suka melihat hamparan lampu-lampu dari kejauhan. Kemudian membayangkan hal-hal yang tengah dilakukan setiap orang di sekitar lampu-lampu yang terlihat kecil itu; di sudut lain, barangkali ada seseorang yang sedang menangis, ketika di sudut lain lagi barangkali ada seseorang yang sedang tertawa. Seseorang lagi barangkali tengah memeluk boneka, ketika seseorang lagi barangkali tengah menjaga pos ronda. Barangkali pula ada seseorang yang tengah tersesat dan kelaparan, ketika seseorang lagi barangkali tengah mendengarkan sebuah siaran radio dengan perasaan yang putus asa.

Ada dua penggalan sajak saya yang akan saya kutipkan di sini. Dua penggalan dari dua sajak yang berbeda:

...seperti hamparan lampu-lampu itu yang lebih terlihat
indah dari kejauhan, kau betapa nampak  lebih bercahaya
dalam kenangan

 (Meletakkan Kepala di Atas Meja)

... yang kelap-kelip itu, adakah ia sebuah lampu
dari halaman
ingatanmu?

(Melankolia)

(9)

Sekitar satu jam dari kampung terakhir. Mungkin karena gelap, Curug yang kami tuju , yang meski kami dengar gemuruhnya tak kami temukan. Sidang “isbat” lagi. Akhirnya kami memutuskan mendirikan tenda di sekitar area pertambangan. Shalat berjamaah, masak, ngopi, melihat lampu-lampu, lalu tidur di bawah cahaya bulan. Kebetulan malam itu adalah malam bulan purnama. Saya jadi membayangkan srigala, saya jadi ingat pesan “jangan bicara kasar dan jangan bertanya menggunaan kata jalan” dari Pak Tua. Tapi justru karenanya saya jadi berbisik, pada sleeping bag, “anjing, dingin sekali”. Dan bertanya, entah kepada apa, entah pada siapa, “yang manakah jalan kebenaran, jalan keselamatan dari agama yang telah terpecah-pecah menjadi beberapa golongan ini?”

(10)

09.00 wib kurang lebih. Kami mengisi air di Curug Citiis. Sumber air terakhir sebelum mendaki. Curug yang ternyata lumayan dekat dan terlihat dari tempat kami mendirikan tenda: Area pertambangan yang mengerikan. Saya jadi membayangkan manusia-manusia yang melahap gunung demi gunung, mengunyah batu satu-persatu, lalu meneguk gundukan pasir sampai butir-butir terakhir.

Gunung Guntur terlihat gersang, hanya ada beberapa pohon pinus yang bisa  terhitung (jika kamu mau menghitung). Selebihnya hanya kerikil, batu dan pasir, dan sehampar ilalang berwarna coklat menyala terkena sinar matahari.

2.249 mdpl dengan perkiraan waktu tempuh 4-5 jam yang saya anggap enteng, ternyata di luar dugaan dan jauh melenceng. Kamu bisa membayangkan jalur yang terus menanjak, berdebu, penuh kerikil rawan yang mampu membuatmu meragukan kuatnya pijakan kakimu sendiri. Ditambah terik matahari. Ditambah tak ada tempat yang teduh. Saya jadi membayangkan Padang Mahsyar yang tak terbayangkan. Tempat kelak manusia-manusia dikumpulkan, berhimpit-himpit, berdesak-desak, di mana jarak matahari dengan kepala teramat sangat dekat. Hari-hari naas yang teramat panas. Di mana hanya ada beberapa golongan manusia yang mendapat naunganNya. Semoga kita termasuk di antara golongan tersebut. Amin...

(11)

Saya mulai belajar, “2.249 mdpl boleh kamu anggap enteng, tapi mulai sekarang kamu juga harus memperhitungkan derajat kemiringan! Dasar bodoh!”

(12)

Lelah. Dan beberapa kali istirah...
Setiap berhenti selalu bikin kopi...

(13)

Ikbal tidur. Masuk dzuhur. Melihat Firman tayamum. Jadi debu...

(14)

Memutuskan melanjutkan pendakian setelah Ashar. Membayangkan diri termasuk golongan yang celaka kelak di Padang Mahsyar.

(15)

Kamu dekat
Tapi aku tak sampai-sampai.

(16)

Dan malam sampai.
Melihat kembali lampu-lampu
Dan barangkali kamu
Di situ
Di perasaan
Kasih yang tak sampai.

(17)

Angin memukul-mukul tenda
Dan ranting-ranting cantigi
Ochay membangun api
Ikbal selesma
Firman shalat
Saya tak ada.

(18)

Melihat handphone. Sial, ternyata masih terjangkau signal! Menengok facebook sebentar. Sial, kenapa jadi selalu ingin melihat profil facebook perempuan ini! 

(19)

“Apa susahnya sih membakar sampah bekas bungkus makanan atau minumanmu sendiri? Baiklah, kali ini saya akan membakar sampahnya. Tapi lain kali saya akan membakar orangnya! Pecinta Alam memang omong kosong!”

(20)



Tentang sampah, saya pikir, ada beberapa kesamaan dengan apa yang dikatakan Pak Tua

di awal, kata yang kerap dihubung-hubungkan dengan semacam mitos,


“Kalau di gunung itu gak boleh bicara kasar, nanti bla...bla...bla...”



Setelah itu tentu akan jadi timbul pertanyaan: Membuang sampah sembarangan dan bicara kasar itu apakah jadi hanya tidak boleh dilakukan ketika berada di suatu tempat saja?

Itulah kenapa saya membagi pendaki-pendaki sampah itu menjadi beberapa kategori:



- Ada pendaki yang di gunung, di rumah, atau dimanapun lingkungannya ia terbiasa buang sampah sembarangan.



- Ada pendaki yang dimanapun ia tak membuang sampah sembarangan.



- Kemudian ada juga pendaki, yang ketika di gunung ia betul-betul tidak buang sampah sembarangan, tapi ketika berada di luar  itu, ia membuang sampah sembarangan. Untuk kategori yang ini, saya pikir, adalah ia adalah tipe pendaki yang menganut kata-kata di atas, 

“kalau di gunung itu gak boleh buang sampah sembarangan...”

(21)

Perjalanan turun tak kalah gila. Derajat kemiringan ditambah jalur dengan tumpukan kerikil yang licin membuat si Ochay harus kakarayapan, sosorosodan, dan keketeyepan. Saya sendiri sampai memilih kukurusukan membuat jalur baru di tengah padang ilalang.  Kadang terlalu melenceng, hingga membuat saya harus kembali ke jalur semula, yang benar.

Perjalanan turun memang selalu lebih cepat. Kami harus mengejar shalat Jumat.

(22)

+ Apa yang kamu dapat dari mendaki gunung?

- Saya tidak tahu. Lagi pula apa memang harus mendapatkan sesuatu?



                                                                                                   Jamanis 2013


Langit Biru
Curug Citiis
Ikbal, Ochay, Firman
Titik GPS Gunung Guntur (Ikbal, Ochay, Firman)
(Ikbal, Ochay, Firman)
Sekitar Area Penambangan (Ikbal, Ochay, Firman)
Ilalang
Merayap
Di Seberang Cikuray
Sunrise






Rabu, 26 Juni 2013

Menafsir Puisi-Puisi Jun Nizami

MENAFSIR PUISI-PUISI JUN NIZAMI

                                    Oleh Lendra Dipraja  


An Afternoon

Pada sepasang mata angsa

Kulihat senja yang terjaga

Di bibir telaga, seorang wanita

Mencelupkan sepasang kakinya

Sambil meraba beberapa bait

Sajak Lorca: tentang para pemanah

Yang buta. Souvenir asmara.




Keberhasilan Jun Nizami dalam menulis puisi adalah dengan kepandaiannya mengumpulkan banyak kata yang kemudian dirangkainya menjadi sebuah bentuk puisi. Mulai dari kebaratannya, kebangsaannya, perang. Kata-kata ia himpun menjadi satu kesatuan yang utuh kesatuan yang memanjang. Seolah-olah dirangkai untuk menemukan satu bentuk makna.



Seperti kebanyakan orang yang tengah membangun sebuah rumah, ia mengumpulkan banyak ornament, objek kebendaan yang ingin dipasangkan menurut selera dan citra estetik yang ia pahami. Terlepas dari rasa betah atau tidaknya si penghuni rumah itu mendiaminya. Begitupun Puisi yang dituang oleh Jun. Ia begitu asik mengumpulkan banyak kata bahkan tanpa ia sadari kata-kata sisa export pun tak luput ia padu padankan dengan kata-kata dan diksi local. Pada beberapa Nota Elegia misalnya.



Memasuki Puisi Jun, seperti memasuki sebuah rumahnya orang barat, tanpa menghilangkan tekon timurnya Jun mampu mengajak pembaca untuk bisa menikmati kata perkata dalam tiap sudut puisinya. Ia memperkenalkan Gandhi, menunjukan Laila dan Majnun. Meski ada aroma yang begitu asing tercium dari pola puisi Jun. Biasanya pemilik rumah seperti Jun, akan membiarkan sang tamu untuk duduk dan menikmati isi rumahnya secara bebas. Tapi jangan sekalipun anda mencuri isi dari rumah tersebut, sebab ia akan ingat betul, apa dan bagaimana karakter objek benda tersimpan dalam rumahnya. Itulah rumah puisi yang terhidang di hadapan saya.



Dari sekian puisi yang saya baca, puisi-puisi Nota Elegia membuat saya ingin menyelaminya secara mendalam, konflik yang sengaja diciptakan Jun, terasa membabi buta. Perang muncul dalam keadaan penuh cinta yang awalnya dibangun, kemudian mati. Tiga sudut yang saling berkaitan itu, malah membuat isi puisi terasa mati oleh sendirinya. Tanpa perlu membaca kata-kata di atasnya, dalam Nota Elegia tersimpulkan bahwa Jun selalu ingin mengakhirinya dengan kematian. Pola puisi yang pesimistik. Kemungkinan barangkali akan muncul dengan gejala psikologis si penulis, namun kapasitas saya sebagai penikmat rumah puisinya Jun ingin dibatasi lewat penuhnya objek kata yang terpasang atau sengaja dipasangkan oleh Jun. Pemasangan kata dengan kata yang menjadi kalimat tidak lagi terasa seperti skrup yang saling memagut, namun terasa seperti perpaduan puzle yang berantakan. Namun satu sama lain saling memberi pesan dan kesan.





……..( Penggalan Puisi Jun)



Untuk yang terakhir kali, duduk menunggumu.

Pura-pura mengantuk, lantas pura-pura pula menelpon;

“Kau di mana?”

Atau,

“Kau sudah sampai mana?”

“Penuhkah keretanya?”

“Aku menunggu!”

Kemudian, “Miss you.”

Lantas menangis, tentu jika tak terlihat

seorang pun. Menangis, untuk bukan apapun



……..( Penggalan Puisi Jun)



laila, laila, laila,

aku sahaya,

aku majenun

yang kehilangan cahaya





KEHADIRAN OBJEK ASING YANG KEMUDIAN GAIB



Dari mana Jun mengenal Gandhi? Lelaki berkacamata bulat tersebut tiba-tiba hadir di rumah puisi Jun, tanpa salam. Kemudian pamit pun tanpa diketahui. Menjadi gaib kiranya apa yang sedang saya nikmati pada rumah puisi Jun? Berhasilkah Jun dalam membuat pelayanannya dalam sebuah rumah miliknya?



…….(Penggalan Puisi Jun)



sepanjang padang pasir, menjadi penyair

seseorang yang fakir, lagi kerapkali terusir



…… (Penggalan Puisi Jun )



Tapi seperti pula engkau, cintaku, sang vegetarian

telah lama pergi. Dan seperti pula Gandhi, cintaku,

kota ini telah lama sekali mati





Rumah tetaplah rumah, begitupun puisi. Berhasil atau tidaknya puisi itu sampai kepada pembaca kesemuanya itu merupakan hal yang sangat relative. Bagi saya Jun telah berhasil memberi kenikmatan, di sisi lain Jun kurang memberikan kenyamanan. Intinya puisi Jun itu NIKMAT TETAPI TIDAK NYAMAN.



MENAFSIR SETELAH MEMBACA



Setelah membaca dan memasuki rumah puisi Jun, pada akhirnya saya harus berani menafsir. Tetapi saya belum sanggup menangkap makna awal si pemilik rumah yang membangun rumahnya, atau si penulis puisi ketika ia selesai menuliskan puisinya dan mempersilahkan untuk ditafsir. Saya harus bersikap dewasa dan cermat. Saya tidak melihat penempatan makna pada puisi Jun kali ini, makna yang dituliskan Jun dari peristiwanya masing-masing sebagai hasil dari olah hidupnya atau pengalaman Jun sendiri yang diwujudkan dalam teks puisi.



Jun pada puisinya masih memberikan perbandingan-perbandingan dengan kata-kata yang saling dihadapkan dalam membentuk pola kalimat. Saya cenderung menguasai tafsir kalimat ketimbang teks satu persatu. Barangkali saya harus merasa diri, bahwa saya bukanlah penafsir tunggal dalam mengolah tafsir atas puisinya Jun, tetapi lebih cenderung sebagai wahana membuka mata baca yang ingin tersampaikan di sini. Sehingga penemuan makna baru bisa ternikmati dengan sendirinya. Dan saya bersedia sekali untuk masuk ke dalam ranah makna yang tersembunyi di balik puisi-puisinya Jun.



Seyogyanya bagi saya sendiri harus bisa menyadari bahwa kehidupan tidak bisa dinalarkan dan disistemasikan secara logis. Itu yang menjadi poin saya dalam menilai serta menafsir puisi jun. Sehingga bagi saya sekali lagi, puisi Jun seperti sebuah rumah. Di mana kita lahir di dalamnya tanpa bisa menolak hasrat. Inilah yang saya pahami sebagai rumah kebijaksanaan. Namun mesti kita ingat, teks atau kata hasil ekspor, jika masih bisa diganti oleh teks local, tidak ada salahnya dimasukan ke dalam rumah tersebut. Sebagai hasil dari nalar yang bijaksana. Dan tidak secara anarkis. Memaksa teks atau kata untuk mendiami rumah kita.



2012

Rabu, 13 Juni 2012

Rhythm of Skepticism

  Rhythm of  Skepticism

                                                  Oleh Jun Nizami

             

Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
Mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin

(Goenawan Mohamad, Pada Sebuah Pantai: Interlude)

(1)

Suatu ketika, di sebuah hari yang tak ada, seseorang bertanya pada kekasihnya: “Apakah yang tak mungkin, Kekasihku? Jika segalanya serba mungkin, dengan begitu, maka bukankah tak mungkin ada yang tak mungkin itu?

Pertanyaan semacam ini, saya tahu, barangkali terdengar begitu sia-sia, barangkali juga tidak. Barangkali seperti juga hidup, yang mungkin sia-sia, mungkin juga tidak. Dan tentang sesuatu yang menyangkut kesia-siaan, suatu ketika, di sebuah hari yang juga tak ada, seseorang pernah berkata dengan segenap kepercayaannya: “Tak ada satu hal pun yang sia-sia,” katanya, kepada seseorang lain yang kemudian berkata: “Lantas untuk apa kata sia-sia ada? Jika begitu, maka bukankah sia-sia sekali kata sia-sia itu sendiri?”

“Apakah yang tak mungkin itu, Kekasihku?” Seorang kekasih mengulang kembali pertanyaannya. “Mungkin, Laila,” jawab kekasihnya,”yang mungkin tak mungkin itu ialah penghapusan kita, ketiadaan atau ketakpernah-beradaan kita.”

(2)

-          Tak ada yang tak mungkin untuk Tuhan, anak muda!

+    Kita terlanjur ada. Lalu mungkinkah Ia bisa membuat kita jadi tak
pernah ada. Tak pernah ada, pak tua?

(3)

Waktu itu menjelang malam ketika saya sampai di puncak Cikuray. Gunung yang barangkali benar, sebagai gunung tertinggi keempat di Provinsi Jawa Barat. Dan setiap kali mendaki, dengan riang, sedikit murung, biasanya saya bersenandung: Naik-naik ke puncak gunung, ketemu filsuf yang bingung. Saya lantas teringat Gie, atau barangkali lebih tepat teringat puisi terakhir yang diakhirinya dengan kalimat –yang barangkali pula hasil perkelahiannnya dengan kesangsian-kesangsiannya sendiri:

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Udara semakin dingin waktu itu, dan saya menanti sunrise. Bibir saya pecah-pecah seperti pula pikiran confuse dan skeptis. Saya membakar rokok lantas berpikir: Saya membakar sesuatu yang saya beli, barangkali bodoh sekali. Saya mendaki, meski pada akhirnya saya akan turun lagi, barangkali sia-sia sekali. Aneh sekali. Seperti puisi, barangkali.

Ya, selain mendaki, satu hal yang juga kadang saya lakukan ialah menulis puisi. Dan kesangsian (suatu hal yang menyebabkan, atau barangkali juga disebabkan. Melahirkan, atau barangkali juga dilahirkan), saya selalu percaya, bahwa ia adalah unsur yang kerap terlibat dalam puisi, atau barangkali menjadi sesuatu yang tak bisa dipisahkan, atau barangkali  justru menjadi unsur fundamen dari (atau bagi?) puisi itu sendiri.

Maka dengan begitu, saya hendak percaya bahwa seorang penyair bukanlah seorang propagandis yang tengah menyampaikan dogma: “Puisi itu ‘harusnya’ membuat bening hati nurani.” –tapi saya sangsi. Ia, dalam pembayangan saya ialah yang melulu sangsi, bertanya, dan mencari. Ia seseorang yang menyanyikan hasrat ataupun harapan, keriangan ataupun kesedihan. Ia, seseorang yang optimis ataupun pesimistis, yang menyanyikan perahu oleng, pertanyaan demi pertanyaan, kesantunan ataupun kebencian, juga menyanyikan cinta maupun dendam.

Ia seorang pencari yang akan terus mencari. Ia seorang pencari yang takkan pernah berhenti mencari. Betapa ia yang sekaligus tahu, bahwa menemukan bukanlah takdir bagi seorang pencari. Sebab dengan rasa sangsi, barangkali, maka akan lebih banyak hal yang dapat ia gali, dari yang kita sebut kefanaan ini.

Saya teringat penggalan puisi Sulaiman Djaya yang berjudul Kiasan Penyair:

Seorang penyair, cintaku, adalah seekor kelelawar malam
Terbang dan bimbang di antara terang bulan dan kegelapan
Ia mencari segala yang tak mungkin ia dapati dan sia-sia

Maka tak terlalu penting sebenarnya menanggapi pernyataan: “Aku bukan penyair.” Atau, “Aku penyair.” Saya lantas jadi teringat pernyataan seorang teman yang juga menulis puisi dan menyatakan: “Aku bukan penyair,” katanya, berulangkali menegaskan pada saya. Terdengar benar-benar ingin agar tak disebut penyair, ya, terdengar benar-benar ingin agar disebut penyair.

-Jika sebutan penyair itu terkesan mulia bagimu, memang semulia apa itu? Dan jika terkesan buruk, seburuk apa pula itu?



(4)

Lantas izinkan saya menutip penggalan puisi Cecep Syamsul Hari yang berjudul Efrosina ini:

Aku terikat di tempatku
Para filsuf menyebutnya dunia
Aku menyebutnya penjara
Atau puisi atau jalusi musim semi

Lalu mengutip Paul Valery: Puisi adalah bimbang yang tak putus-putus antara bunyi dan arti. Lalu Carlyle: Puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal.

Dan sebagai seseorang yang suka membaca puisi (jangan, jangan membayangkan seseorang yang tengah membaca puisi di atas panggung), saya tidak  termasuk orang yang memilih-milih puisi dari segi bentuk untuk dibaca. Saya selalu menyerahkan diri pada apapun yang sedang saya baca, termasuk puisi. Yang terpenting bagi saya, pertama-tama, ialah sejauh mana ia (puisi itu) dapat membuat saya merasa terseret ke dalam irama dan suasana yang dibangun dan dinyanyikannnya. Sejauh mana ia membuat saya tiba-tiba mendapati diri telah tersesat dalam keindahan efek musikal yang terus disenandungkannya. Sebab inilah yang bagi saya, yang menjadi letak kekuatan sebuah puisi atau sajak. Ringkasnya, sekuat apa ia ‘meminta’ saya untuk terus membaca musiknya, yang pada akhirnya, sekuat atau selama apakah ia dapat bergema, hingga membuat saya ikhlas dengan sendirinya membiarkan ia tinggal di dalam diri saya, selamanya.

De la musique avant tout chose,” kata Paul Verlaine suatu ketika. Atau, “musiklah yang paling utama dalam puisi.” Dan sebelum membaca ungkapan penyair simbolis Prancis ini, telah lama saya percaya bahwa memang musiklah yang selalu saya percaya sebagai unsur terbesar dalam proses pembentukan sebuah puisi atau sajak.

“Kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik,” kata Carlyle, yang kali ini membuat saya berpendapat agak sedikit berbeda.  Bagi saya, musiklah yang justru menggerakkan intuisi si penyair untuk menyusun kata-kata yang pada akhirnya frasa, kalimat,  tifografi, bait, dll, dengan begitu rupa. Ialah yang mendampingi selagi si penyair kesepian, selagi si penyair menghayati pengalaman puitik, dan selagi si penyair menuliskan puisinya. Bagi saya, kata-kata ialah laiknya sebuah tubuh bagi not atau titinada atau bunyi untuk mengungkapkan ataupun mewujudkan dirinya.

“Pada mulanya adalah kata-kata. Padanya, lalu ditiupkanlah nada yang telah diciptakan Tuhan sebelumnya,” gumam saya, iseng sendiri.

Dan demikian, unsur musiklah yang juga saya percaya, membuat suasana sebuah puisi selaras lagi terjaga. Dan seberapa kuat unsur musik yang mengalir dalam diri si penyairlah, yang bagi saya menjadi penentu seberapa tepatkah kata-kata, kalimat-kalimat yang digunakan dan juga disusunnya. Seberapa tepat dan selaras untuk membuatnya tidak menjadi fals. Dan seberapa mengalir, tentu agar tak ada kata-kata yang dalam sebuah puisi merasa dirinya terkucil atau mubazir.

(5)

Selain untuk menulis dan membaca, cukup sering saya menghabiskan malam untuk melamun. Biasanya di sudut sebuah alun-alun, di Ciawi, yang cukup dekat dengan lintasan kereta api. Kecamatan yang terletak di sebelah utara, di Kabupaten Tasikmalaya. Yang dari coretan di pintu-pintu toko dan dinding-dindingnya dapat saya simpulkan, bahwa selain ditumbuhi sepi (atau justru karena sepi?) wilayah ini pun ditumbuhi teror, ditumbuhi berbagai nama geng motor.

Setelah agak larut malam, setelah habis kopi, biasanya saya kemudian memesan nasi goreng pada seorang pedagang yang di warungnya tengah memutar lagu Evie Tamala. Penyanyi dangdut, yang jika saja dulu Tuhan menghendaki suara adalah sesuatu yang kasat mata, maka saya percaya, bahwa suaranya adalah pendaran cahaya. Seperti sehampar lampu di kaki-kaki bukit, yang nampak lebih indah jika terlihat dari jauh.

Pada pukul 22:13 wib, biasanya kerap terdengar senandung kereta yang tengah melintas, menuju timur. Entah akan ke mana tepatnya, dan entah apa maknanya. Seperti puisi-puisi yang pernah saya baca dan melintas kembali, barangkali. Apa pun maknanya, tak menjadi sesuatu yang terlalu penting lagi bagi saya, apakah ia membawa makna atau tak, atau dari puisi yang saya baca itu saya dapat menangkap atau memahami maknanya (jika ia memang membawa makna) atau tak. Maka izinkan saya lagi untuk mengutip bait terakhir dari puisi Pada Sebuah Pantai: Interlude ini:

Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang,
lumut pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana
–apa pun maknanya.

Yang dalam pembacaan saya mengenai baris terakhir: Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana (--sekalipun maknanya: tak bermakna apa-apa)

Dan demikianlah, bagi saya, mencintai puisi ialah berarti mencintai sesuatu yang sia-sia sekaligus tidak, yang barangkali dan yang sangsi. Yang entah, yang kokoh namun juga sekaligus goyah. Seperti mengkhidmati senandung kereta api yang semakin menjauh itu, barangkali. Yang memasuki lubuk malam, melintasi kota-kota sunyi, dan barangkali, terus menempuh barangkali demi barangkali.                                                                                                  


                                                                   



                                                                                                                                             Jamanis, 2012



(Radar Tasikmalaya, 03 Juni 2012)